Rabu, Januari 21

Mirza Djausal: Tata Niaga Singkong Kunci Kesejahteraan Petani

Bandar Lampung, Q.-KOKO.SITE – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyebut bahwa komoditas singkong dan produk olahannya menyumbang sekitar 7 hingga 8 persen dari total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Lampung yang mencapai Rp480 triliun per tahun.

Pernyataan ini disampaikan Mirza saat menghadiri pengukuhan Pengurus Perhimpunan Pengusaha Tepung Tapioka Indonesia (PPTTI) Provinsi Lampung periode 2025–2030, di Gedung Balai Keratun, Senin (19/5/2025).

“Singkong sampai tepung tapioka ini menyumbang 7-8 persen PDRB. Artinya, dari uang yang beredar di Lampung setiap hari, sebagian besar berasal dari industri singkong,” kata Mirza.

Menurutnya, keistimewaan industri ini terletak pada keterlibatan penuh masyarakat lokal, mulai dari petani, pelaku industri, hingga pengusaha. Oleh karena itu, Mirza menekankan pentingnya perbaikan sistem tata niaga agar industri singkong semakin kuat dan berdampak positif bagi perekonomian serta kesejahteraan petani.

“Kita harus segera menata keseimbangan, memperbaiki tata niaga, dan yang terpenting memiliki nilai tawar di tingkat pusat untuk memperjuangkan industri ini,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua PPTTI Lampung, Welly, menambahkan bahwa tantangan utama petani singkong saat ini tidak hanya datang dari produk impor, tetapi juga dari persaingan antarprovinsi penghasil singkong. Untuk itu, ia meminta agar pemerintah pusat mengatur arus impor dan menerapkan harga standar nasional.

“Kami tidak minta bahwa impor itu disetop, tapi diatur,” kata Welly. Ia juga mendorong agar Lampung dapat dijadikan pelabuhan utama masuknya impor tapioka ke Indonesia untuk menjaga keseimbangan pasar dan daya saing industri lokal.(Red)