Selasa, Januari 20

Ini Dia Empat Jenderal Kesayangan Presiden Soeharto

Empat Jenderal Kesayangan Presiden Soeharto

Penulis : Kang WeHa

Lingkaran Dalam Militer Penopang Kekuasaan Orde Baru

Dalam sejarah politik Indonesia, nama Presiden Soeharto hampir mustahil dipisahkan dari peran militer. Selama lebih dari tiga dekade berkuasa, stabilitas politik yang kerap digaungkan Orde Baru berdiri di atas fondasi kuat Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Namun, di antara begitu banyak perwira tinggi, hanya segelintir jenderal yang benar-benar berada di lingkaran terdalam kekuasaan.

Mereka bukan sekadar bawahan dalam struktur komando. Mereka adalah orang-orang kepercayaan, para jenderal yang menjadi tameng, telinga, sekaligus tangan kanan Presiden Soeharto dalam menjaga—dan mempertahankan—kekuasaan.

Wartawan Australia, David Jenkins, dalam bukunya Suharto and His Generals: Indonesian Military Politics 1975–1983, menyebut kelompok ini sebagai the inner circle. Sebuah lingkaran elite militer dengan pengaruh besar dalam pengambilan keputusan strategis negara, khususnya di bidang keamanan dan politik.

Keempat jenderal ini dikenal berperan penting dalam menghadapi, bahkan menyingkirkan, figur-figur yang dianggap berpotensi mengganggu dominasi Orde Baru. Nama-nama besar seperti Jenderal A.H. Nasution, Ali Sadikin, hingga Hoegeng Iman Santoso, kerap berada di posisi berseberangan dengan arus utama kekuasaan saat itu.

Berikut empat jenderal yang kerap disebut sebagai tulang punggung kekuasaan Presiden Soeharto.

Benny Moerdani: Arsitek Intelijen Negara

Jenderal Leonardus Benjamin Moerdani dikenal luas sebagai figur militer yang cerdas, dingin, dan sangat strategis. Ia adalah otak di balik berbagai operasi intelijen dan keamanan nasional yang krusial, baik di dalam negeri maupun dalam konteks geopolitik regional.

Benny dipercaya menangani situasi-situasi genting negara, mulai dari konflik internal hingga urusan sensitif di kawasan Asia Tenggara. Loyalitasnya kepada negara—dan secara praktis kepada Presiden Soeharto—membuatnya menjadi salah satu jenderal paling berpengaruh di era Orde Baru.

Sudomo: Wajah Keras Stabilitas Orde Baru

Nama Sudomo identik dengan ketegasan dan pendekatan keamanan yang keras. Berkarier dari militer hingga birokrasi sipil, ia pernah menjabat sebagai Menteri Tenaga Kerja dan kemudian Menko Polhukam.

Dalam perannya, Sudomo dikenal sebagai figur yang bertugas menjaga ketertiban sosial-politik. Ia berada di garis depan dalam meredam berbagai gerakan yang dianggap mengancam stabilitas nasional versi Orde Baru, sebuah stabilitas yang sering kali mengorbankan ruang kritik dan kebebasan sipil.

Ali Murtopo: Mastermind Operasi Khusus

Jika ada satu nama yang lekat dengan operasi intelijen politik Orde Baru, maka itu adalah Ali Murtopo. Ia dikenal sebagai otak di balik Opsus (Operasi Khusus)—jaringan intelijen bayangan yang bekerja jauh dari sorotan publik.

Ali Murtopo memainkan peran penting dalam rekayasa politik kekuasaan, mulai dari membaca peta lawan, menggalang dukungan, hingga mengatur langkah-langkah senyap demi memastikan posisi Soeharto tetap aman. Pengaruhnya sering kali terasa, meski jarang terlihat secara kasat mata.

Yoga Sugama: Penjaga Aliran Informasi

Sebagai Kepala BAKIN (Badan Koordinasi Intelijen Negara), Yoga Sugama memegang kendali atas informasi strategis negara. Ia menjadi mata dan telinga Presiden Soeharto, memastikan setiap potensi ancaman terdeteksi sejak dini.

Dalam sistem kekuasaan Orde Baru, informasi adalah segalanya. Dan Yoga Sugama berada di pusat aliran informasi itu—mengolah, menyaring, dan menyampaikannya kepada Presiden sebagai dasar pengambilan keputusan.

Militer dan Kekuasaan

Keempat jenderal ini membentuk benteng kokoh yang menopang kekuasaan Soeharto. Mereka bekerja dalam senyap, bergerak strategis, dan memainkan peran penting dalam menjaga keberlangsungan rezim Orde Baru.

Sejarah kemudian mencatat, stabilitas yang dibangun dengan pendekatan keamanan memiliki harga mahal. Namun, memahami peran para jenderal ini menjadi penting agar bangsa ini dapat belajar: bahwa kekuasaan yang terlalu bertumpu pada kekuatan, pada akhirnya akan diuji oleh zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *