
Tulang Bawang Barat, q-koko.site —
Di sebuah dinding pesantren sederhana, terpampang kalimat penuh makna dari sosok ulama kharismatik bangsa: “Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik…”
Kalimat ini bukan sekadar pesan moral, melainkan wasiat batin dari KH. Maimun Zubair (Mbah Moen) — ulama sepuh yang sepanjang hidupnya menjadi teladan keikhlasan, kebijaksanaan, dan kasih sayang dalam mendidik umat.
🌿 Sosok yang Menyatukan Ilmu, Iman, dan Kebangsaan
Kiai Haji Maimun Zubair lahir di Sarang, Rembang, Jawa Tengah, pada 28 Oktober 1928. Beliau adalah putra KH Zubair Dahlan, ulama ahli tafsir yang juga dikenal memiliki sanad keilmuan yang kuat hingga ke tanah Hijaz. Sejak muda, Mbah Moen sudah akrab dengan kitab kuning, khidmah, dan laku tirakat di pesantren.
Beliau sempat menimba ilmu di Tanah Suci Mekkah, memperdalam tafsir, hadis, dan fiqih. Setelah kembali ke tanah air, Mbah Moen mendirikan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang pada tahun 1967. Pesantren ini kemudian tumbuh menjadi pusat ilmu dan dakwah yang melahirkan banyak kiai besar, termasuk Gus Baha’ dan sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama lainnya.
🕌 Ulama Perekat Bangsa
Di kalangan santri dan masyarakat luas, Mbah Moen dikenal sebagai ulama perekat bangsa. Dalam banyak momen, beliau selalu mengajarkan pentingnya menjaga ukhuwah, baik sesama umat Islam maupun antar golongan.
Beliau pernah berpesan: “Indonesia ini besar karena Allah yang menjaganya. Maka jagalah negeri ini dengan doa dan akhlak.”
Mbah Moen juga dikenal bijak dalam politik, tapi tetap memegang prinsip ulama. Meski sempat menjadi Ketua Majelis Syariah PPP, beliau tidak pernah menomorduakan ilmu dan keikhlasan. Bagi Mbah Moen, politik hanyalah jalan untuk menguatkan nilai agama dan memperjuangkan kemaslahatan umat.
📖 Filosofi Keikhlasan Seorang Guru
Pesan dalam papan kutipan di atas menjadi cerminan mendalam tentang pandangan beliau terhadap dunia pendidikan.
Menurut Mbah Moen, seorang guru tidak perlu berniat membuat muridnya pintar, karena itu bisa menimbulkan kecewa dan amarah ketika harapan tidak tercapai. Yang penting adalah ikhlas dalam menyampaikan ilmu dan terus mendoakan murid agar mendapat hidayah.
Inilah rahasia mengapa banyak santri Mbah Moen yang tumbuh menjadi orang besar. Bukan karena kecerdasan semata, tapi karena barokah doa dan keikhlasan sang guru.
✨ Fakta Luar Biasa tentang Mbah Moen
1. Wafat di Tanah Suci
Mbah Moen berpulang pada 6 Agustus 2019 di Mekkah, saat menjalankan ibadah haji. Ia dimakamkan di Ma’la, tidak jauh dari makam Sayyidah Khadijah — sebuah kemuliaan yang diyakini sebagai tanda husnul khatimah.
2. Pengingat Nama Santri Lama
Banyak kesaksian santri bahwa Mbah Moen masih mengingat nama-nama muridnya yang sudah puluhan tahun meninggalkan pesantren. Ini menunjukkan betapa dalam perhatian beliau kepada para penuntut ilmu.
3. Simbol Cinta Tanah Air
Dalam usia yang sudah lanjut, Mbah Moen tetap berdiri tegak menyanyikan Indonesia Raya di forum resmi NU — simbol betapa kuatnya semangat kebangsaan dalam diri ulama sepuh ini.
4. Menulis Tafsir Sendiri
Beliau menulis karya tafsir Safīnah Kallā Saya’lamūn, hasil dari pengajaran tafsir Al-Jalalain yang disampaikan dalam bahasa Jawa kepada santri-santri Sarang.
🌸 Warisan untuk Generasi NU
Kini, pesan Mbah Moen tentang keikhlasan guru menjadi refleksi penting di tengah dunia pendidikan modern. Di era serba cepat ini, banyak guru dan ustaz terjebak pada hasil, bukan proses.
Padahal, seperti pesan beliau, “Yang penting adalah menyampaikan ilmu dengan niat yang baik. Urusan murid pintar atau tidak, serahkan pada Allah SWT.”
Warisan nilai itu kini terus hidup di pesantren-pesantren NU, termasuk di Lampung — tempat para santri dan guru berjuang melanjutkan semangat ikhlas lillah ala Mbah Moen.(WeHa)
