Senin, Februari 16

“Senja, Kopi, dan Empat Orang yang Hampir Menyerah”

“Senja, Kopi, dan Empat Orang yang Hampir Menyerah”

Oleh : Kang WeHa

Di antara jalanan rapi dan tugu-tugu megah di Tulang Bawang Barat, ada satu sudut yang lebih sakral dari ruang rapat mana pun: warung kopi pojok Tiyuh.

Di situlah semuanya bermula.

Namanya Rara. Perempuan berkacamata dengan totebag penuh buku proposal. Katanya sih aktivis literasi, tapi lebih sering ditolak sponsor daripada diterima gebetan.

Di depannya duduk Mira, jilbab warna sage, hobi bikin konten motivasi tapi hidupnya sendiri lagi buffering.

Lalu ada dua lelaki dengan tampang sok kuat: Damar, musisi reggae gagal viral yang selalu bilang, “Tenang, bro, karya besar butuh waktu.” Padahal yang butuh waktu itu bayar utang sound system.

Dan satu lagi, Arga, mantan aktivis kampus yang sekarang kerja serabutan desain banner kegiatan desa. Idealismenya masih full HD, tapi dompetnya 144p.

Sore itu langit Tubaba jingga. Angin dari arah Tiyuh Panaragan bikin daun-daun trembesi bergoyang kayak lagi joget tanpa sound.

“Aku capek,” kata Rara sambil menatap proposal lomba menulis yang baru saja ditolak dinas.
“Katanya bagus, tapi anggaran terbatas. Selalu begitu.”

Mira menyeruput kopi.
“Kita ini hidup di daerah yang indah, tapi kadang idenya lebih cepat lari daripada dananya.”

Damar ketawa kecil.
“Kalau nunggu dana turun baru bergerak, kita keburu tua, Ra.”

Arga yang dari tadi diam akhirnya angkat suara.
“Kita ini bukan kekurangan uang. Kita kekurangan nekat.”

Sunyi. Bahkan sendok di gelas kopi seperti berhenti berdenting.

Rara menatap satu per satu.
“Nekat gimana maksudmu?”

Arga berdiri, menunjuk ke arah lapangan kosong dekat tugu.
“Kita bikin gerakan kecil. Lomba menulis, baca puisi, musik akustik. Gratis. Hadiahnya? Buku. Kita minta donasi buku dari warga.”

Mira mengernyit.
“Kalau nggak ada yang datang?”

Damar langsung nyamber,
“Minimal kita berempat yang datang. Penontonnya pohon trembesi. Siapa tahu mereka lebih menghargai karya.”

Mereka tertawa. Tawa yang bukan karena lucu, tapi karena sadar—kalau tidak bergerak sekarang, mereka akan selamanya jadi penonton hidup sendiri.


Seminggu kemudian, poster digital sederhana menyebar di WhatsApp grup warga Tubaba:

“Gerakan Senja Literasi – Dari Tubaba untuk Masa Depan”

Tanpa sponsor besar. Tanpa panggung megah.
Hanya tikar, speaker pinjaman, dan mimpi yang belum lunas.

Hari H tiba. Matahari Tubaba bersinar seperti sengaja mendukung.

Awalnya hanya lima anak kecil datang.
Lalu sepuluh.
Lalu belasan ibu-ibu.

Seseorang membawa kardus buku bekas.
Yang lain menyumbang minuman.
Seorang bapak-bapak tiba-tiba menawarkan tenda.

Rara menahan air mata.
Mira sibuk dokumentasi sambil senyum lebar.
Damar memainkan gitar reggae-nya, menyanyikan lagu tentang harapan di tanah sendiri.
Arga berdiri di belakang, melihat semuanya seperti mimpi yang akhirnya punya bentuk.

Menjelang senja, seorang anak kecil maju membaca cerpen buatannya. Tulisannya sederhana, tapi kalimat terakhirnya bikin semua diam:

“Kalau kita kecil, bukan berarti kita nggak bisa bikin cahaya.”

Rara menoleh ke tiga temannya.
“Ini yang kita cari.”

Arga mengangguk.
“Tubaba bukan kota besar. Tapi semangatnya bisa gede kalau kita nggak malu mulai kecil.”

Damar memetik gitar pelan.
Mira menutup live streaming dengan kalimat,
“Dari tanah yang sering dianggap pinggiran, lahir mimpi yang nggak mau pinggir.”

Senja turun pelan di Tulang Bawang Barat.

Empat orang yang hampir menyerah itu sadar satu hal:

Bukan soal seberapa besar panggungnya.
Tapi seberapa tulus langkah pertamanya.

Dan sejak hari itu, warung kopi pojok Tiyuh tak lagi jadi tempat mengeluh.

Ia berubah jadi markas mimpi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *