
Tulang Bawang Barat, q-koko.site – Proyek peningkatan Balai Tiyuh Panaragan di Kecamatan Tulang Bawang Tengah (TBT), Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), menjadi sorotan. Dana desa (DD) tahun 2025 senilai Rp134.983.500 digelontorkan untuk proyek dengan volume 261 meter ini. Namun, sejumlah kejanggalan material ditemukan, memicu pertanyaan tentang efisiensi dan transparansi.

Sulaiman, TPK (Tim Pelaksana Kerja) sekaligus Kasi Kesra Tiyuh Panaragan, menjelaskan bahwa proyek ini meliputi pembongkaran total atap balai, penambahan ruang pelayanan publik, kamar mandi, serta pemasangan cordak pilar. Selain itu, dilakukan penggantian kusen dengan aluminium, pemasangan 4 pintu dan jendela, 4000 genteng, 7000 bata bolong, serta penggunaan sejumlah material lain seperti pasir, semen, kayu, batu belah, dan besi.
Namun, yang mengejutkan adalah penggunaan paku hingga 100 kg. “Untuk bangunan dengan volume 261 meter, apakah wajar menghabiskan paku sebanyak itu?” tanya seorang warga yang enggan disebutkan namanya. Awak media juga menyoroti kejanggalan ini, mempertanyakan bagaimana mungkin sebuah proyek dengan skala tersebut memerlukan paku sebanyak itu.
Selain itu, rincian material lain juga menjadi perhatian. Misalnya, penggunaan pasir sebanyak 3 mobil, semen 110 sak, kayu mentru 7 kubik, papan cor 2 kubik, batu belah 1 rid, vipa wapin 3in 10 batang, baut 14/17 buah, tiyang pilar 5 buah, besi berbagai ukuran, dan batu split 1 mobil. Upah tukang juga menjadi bagian dari anggaran yang cukup besar, dengan 12 tukang bongkar yang bekerja selama 7 hari, serta 7 tukang lain yang bekerja selama 60 hari sejak 19 Agustus.
Kasi Kesra Tiyuh Panaragan sekaligus TPK mengungkapkan bahwa semua pekerjaan dilakukan sesuai rencana. Namun, temuan awak media di lapangan menunjukkan adanya potensi ketidaksesuaian antara volume pekerjaan dengan jumlah material yang digunakan.
Kasus ini menjadi perhatian serius di kalangan masyarakat Tubaba. Mereka berharap pihak berwenang segera melakukan investigasi mendalam untuk memastikan tidak ada penyimpangan dalam penggunaan dana desa. “Kami ingin proyek ini benar-benar bermanfaat bagi masyarakat, bukan hanya menguntungkan segelintir orang,” ujar salah seorang tokoh masyarakat.
Proyek peningkatan Balai Tiyuh Panaragan ini diharapkan menjadi pelajaran bagi semua pihak terkait pengelolaan dana desa. Transparansi dan akuntabilitas harus menjadi prioritas utama agar setiap proyek yang didanai oleh dana desa dapat memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.imal bagi masyarakat.(Ali A)
