Senin, Februari 23

Di Bawah Cahaya Tarawih, Kepalo Tiyuh Margodadi Rapatkan Saf Bersama Warga

Tulang Bawang Barat — Malam Ramadhan tak hanya tentang tarawih dan takjil. Di Suku 2 RT 5, cahaya lampu Mushola Darrus Sholihin menjadi saksi bahwa silaturahmi masih menyala.

Pemerintah Tiyuh Tiyuh Margodadi kembali menggelar Safari Ramadhan 1447 Hijriyah tingkat tiyuh untuk malam kedua. Bukan sekadar agenda rutin, tapi perjumpaan antara pemimpin dan warganya dalam ruang yang lebih jujur: rumah ibadah.

Kepalo Tiyuh Feri Saputra memimpin langsung kegiatan tersebut. Hadir aparatur tiyuh, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga warga yang memadati mushola dengan wajah-wajah penuh antusias. Tidak ada sekat jabatan malam itu — yang ada hanya saf yang dirapatkan.

Safari Ramadhan ini merupakan bagian dari agenda resmi Pemerintah Tiyuh Margodadi sebagaimana tertuang dalam undangan kegiatan Safari Ramadhan 1447 H yang telah diedarkan sebelumnya. Undangan itu bukan sekadar kertas pemberitahuan. Ia adalah penegas komitmen: pemerintah hadir, bukan hanya saat rapat, tapi juga saat doa dipanjatkan.

Di hadapan jamaah, Feri Saputra menegaskan bahwa Safari Ramadhan bukan panggung seremonial.

“Ramadhan adalah bulan kebersamaan. Pemerintah tiyuh hadir bukan hanya dalam administrasi, tetapi juga dalam kebersamaan spiritual dan sosial bersama masyarakat.”

Pesannya sederhana, tapi dalam: pemimpin harus mau turun ke suku, duduk bersama, mendengar tanpa podium yang terlalu tinggi.

Rangkaian kegiatan diisi dengan shalat Isya dan Tarawih berjamaah, tausiyah, serta dialog ringan bersama warga. Suasana khidmat terasa, namun tetap hangat. Di sela doa dan ceramah, ada ruang percakapan — tentang harapan, tentang kebutuhan, tentang masa depan tiyuh.

Pemerintah Tiyuh Margodadi memastikan Safari Ramadhan akan terus berlanjut ke titik-titik lainnya selama bulan suci di wilayah Kecamatan Tumijajar, Kabupaten Tulang Bawang Barat.

Karena sejatinya, Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar. Ia tentang mendekatkan yang jauh, merapatkan yang renggang, dan memastikan bahwa antara rakyat dan pemimpinnya — masih ada jalan yang bisa ditempuh bersama.

Dan malam itu, di Mushola Darrus Sholihin, jalan itu terasa masih terbuka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *