
Selesaikan Dirimu, Niscaya Kau Akan Merdeka
Oleh : Kang WeHa
Dalam hiruk-pikuk dunia yang riuh oleh tuntutan, ambisi, dan luka batin yang tak kunjung sembuh, manusia sering lupa pada satu pekerjaan paling penting dalam hidupnya: menyelesaikan dirinya sendiri.
Banyak orang ingin merdeka—bebas dari tekanan, bebas dari ketakutan, bebas dari rasa iri, dendam, dan gelisah. Tapi ironisnya, mereka mencarinya ke luar: pada jabatan, pengakuan, harta, bahkan pada manusia lain. Padahal, dalam kacamata religi, kemerdekaan sejati justru bermula dari dalam diri.
Islam mengajarkan bahwa manusia tidak dibebani kecuali sesuai kesanggupannya:
“Lā yukallifullāhu nafsan illā wus‘ahā”
(Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya)
— (QS. Al-Baqarah: 286)
Ayat ini bukan hanya tentang beban hidup, tapi juga tentang tanggung jawab menyelesaikan urusan batin: iman, niat, dan akhlak. Orang yang belum selesai dengan dirinya—dengan egonya, nafsunya, dan lukanya—akan mudah menyalahkan dunia.
Iman yang Rukun, Jiwa yang Utuh
Rukun iman yang enam bukan sekadar hafalan, tapi fondasi keutuhan jiwa. Ketika iman itu lengkap dan hidup, ia menata cara pandang seseorang terhadap realitas.
Iman kepada Allah membuat hati tidak mudah bergantung pada manusia.
Iman kepada malaikat melatih kesadaran bahwa hidup ini selalu dalam pengawasan.
Iman kepada kitab-kitab Allah menuntun arah, bukan sekadar wacana.
Iman kepada para rasul memberi teladan konkret tentang keteguhan dan kesabaran.
Iman kepada hari akhir menenangkan hati dari obsesi dunia yang berlebihan.
Iman kepada qadha dan qadar membebaskan jiwa dari penyesalan yang tak berujung.
Inilah titik pentingnya: orang yang rukun imannya lengkap, lebih mudah berdamai dengan hidup. Ia tahu kapan berjuang, kapan bersabar, dan kapan melepaskan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Semua urusannya adalah kebaikan baginya.”
— (HR. Muslim)
Mengapa menakjubkan? Karena orang beriman tidak lagi diperbudak oleh keadaan. Ia sudah “selesai” dengan dirinya—dengan marahnya, takutnya, dan ambisinya.
Merdeka yang Tidak Bisa Dirampas
Kemerdekaan sejati bukanlah bebas tanpa aturan, tapi bebas dari perbudakan hawa nafsu. Inilah yang ditegaskan Allah:
“Apakah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”
— (QS. Al-Jatsiyah: 23)
Selama seseorang masih dikuasai nafsunya—ingin dipuji, takut dihina, dendam tak selesai—selama itu pula ia belum merdeka.
Maka benar adanya:
selesaikan dirimu—imanmu, niatmu, akhlakmu—niscaya kau akan merdeka.
Merdeka dari kegelisahan.
Merdeka dari iri.
Merdeka dari ketergantungan pada manusia.
Dan kemerdekaan seperti ini, besti, tak bisa dicabut oleh siapa pun, karena ia lahir dari iman yang utuh dan jiwa yang selesai.
